Hari ini mau cerita tentang keluargaku dulu..
[Kamis, 3 September 2009]
Pas masih di kantor, aq coba telepon nyokap untuk menanyakan rencananya temenin kakak yang mau cek kandungan ke dokter. Yg ngangkat telepon rumah ternyata kakakku yg paling besar, yg pasti bersama dengan kedua anaknya (Mima dan Cicin) sedang di Buaran, biasalah sedang kunjungan ke ompungnya. Wah, senangnya hati klo mereka berdua ada di rumah, bisa menjadi rame dan tulangnya ada bahan maenan (wuhuuuuu).. ;p
Begitu mengetahui kabar bahwa kedua bereku yg lucu2 itu lagi di rumah, aq langsung aja meluncur ke rumah, tentunya setelah jam 17.00 WIB berdentang dong (soalnya aq kn karwayan yg baik, walahhh ;p). Dengan semangat aku pulang dengan menunggangi ’si Tigy’ yg belum kumandikan beberapa minggu tsb..hahaha
Sesampainya di rumah, akhirnya setelah melalui perjalanan panjang yg begitu melelahkan (hiperbolis), aku bisa juga menjumpai kedua bereku yg sedang asyik nonton TV. “Hallo, tulang pulang, tak bawa apa2″.. pret!!!! Keponakan yg pertama kusapa adalah Cynthia “Cicin” Napitupulu, yg sedang berdiri di depan TV, menonton acara kesukaannya kali. Cicin umurnya hampir 2 tahun, dia anak yg lucu, gembira, riang, pemberani, nekat, dan suka senyum. Dan satu ciri khasnya yg nampak, klo mau difoto, sesaat kamera mau diarahkan ke dia, pasti dia langsung bergaya dengan menaruh kedua jari telunjuknya di pipinya serasa model. Hehehe, ini gara2 para tantenya yg ngajarin jadi ‘narsis.tv’, ada2 ajah. Bere yg satu lagi, Jemima “Mima” Napitupulu, sedang duduk di meja makan dan menghadap ke TV jg, kata mamanya dia baru bangun tidur. Mima sedikit berbeda dengan adenya, umurnya sekarang 4 tahun lewat 3 bulan, dia kakak yg aga pendiam, dan lumayan tertutup (tulangnya banget ya ;p). Mima ga seberani dan ga selincah adenya, di umurnya yg sekarang dia kayaknya punya dunia khayalnya sendiri, sering asyik dengan imajinasinya sendiri, smpe adenya dicuekin.
Sebagai info aja, kedua bereku ini memiliki ‘mesin’ yg aga lama panas klo baru mulai nyala ;p. Jadi ya gitu deh, Mima yg baru bangun ditanyain atau diajak bicara, tak banyak jawaban/kata2 keluar darinya, alias diam aja seperti ga mau diganggu gitu. Aku sebagai tulang yg baik dan pengertian (huahahaha) udah tau triknya, jadi pada saat itu ya aku bermain dengan Cicin saja yg memang ‘mesin’nya pada saat itu sudah panas…kekekeke.
Sampai suatu kejadian dimana Mima mengenai kunci ke kepala Cicin. (Duh Mima gimana seh, kasian Cicin yg sedang mau main2 dengan kakaknya, malah diberi hadiah ayunan kuci sih?? Huh). Sebagai tulang yg melihat persis kejadian tersebut, sontak memarahi Mima, dan ga tega ngliat Cicin nangis keras gitu kena ayunan kunci dari kakaknya. Mima langsung terdiam sesaat, sementara adenya sedang ditenangkan oleh tantenya, mendengar adenya jg nangis, eh Mima malah ikutan nangis. Hmmm, ada2 aja. Memang sih kami semua yg ada di situ menasihati Mima supaya ga boleh gitu sm adenya dan minta maaf ke Cicin, cuma ya gitu deh, Mima malah ikutan nangis. Jadi iba ngliat mereka seperti itu. Akhirnya kurangkul Mima supaya jgn nangis, dan kubilang “Udah jangan nangis lagi ya Mima, lupakan aja ya yang tadi, tapi jangan diulang lagi”. Entah kenapa melihat mereka berdua nangis seperti itu, aku langsung tersentuh dan berusaha menenangkan dan mencoba memberikan pengertian kepada keduanya dan kepada Mima khususnya, aku baik ya (hihihihihi). Akhirnya kutenangkan jg Cicin supaya jangan nangis lagi, dan kuajak mereka berdua untuk coba melupakan kejadian tadi dengan menonton TV kembali, nonton kartun gitu, untung kartunnya memang lucu, jadi bisa jadi bahan tertawaan jg. Setelah beberapa menit, mereka pun reda nangisnya. Aduh, syukur deh mereka jg mau baikan lagi, hal ini terlihat pas aq mendekatkan Cicin ke kakaknya, Cicin langsung meluk Mima gitu.. Ohhhhh, co cwitna.. ^_^. Aku sangat menyayangi bere2ku, karena dengan melihat mereka, aq merasa bisa menjadi lebih muda lagi (baca: bisa menuangkan bakat kekanak-kanakanku, hehehehe)..
[Jumat, 4 September 2009]
Di sini aku ingin menceritakan bereku yg 1 lagi, namanya Rafael “Phael” Simanjuntak, anak pertama dari kakak ketigaku. Pada sore hari, nyokap ke rumah kakak ketigaku di Perumnas Klender untuk menjagai pahompunya, Phael, karena bapak dan ompungnya lagi pergi ngelayat ke rumah keluarga. Jadi nyokaplah yg menggantikan sementara untuk menjaga Phael, sementara mamanya Phael jg sedang kerja di kantor. Malam harinya, sebelum aq pergi latihan tim musik di gereja Pulo Asem, aku jemput nyokap karena mamanya Phael sudah pulang kerja, dan nyokap jg pingin pulang ke rumah. Sesampainya di Perumnas, akhirnya aku bertemu Phael yg sedang digendong mamanya. Umurnya baru 3 bulan, masih lucu gitu deh, tapi aq masih takut untuk gendong, karena umur segitu masih harus ekstra hati2 untuk menggendong bayi, lagipula memang aq hanya sebentar di situ karena harus langsung pergi lagi ke gereja. Dah Phael, kutunggu kau ya, cepat besar ya, biar bisa main2 sm tulang
[Sabtu, 5 September 2009]
Hari ini adalah harinya mama(k)ku. Di umurnya yg ke-58 tahun hari ini, mama(k) ga pernah merasa tua. Bahkan kemarin pas ngobrol, aku tanya umurnya, dia bilang banyak temannya yg ga percaya umurnya sudah mendekati 60 tahun, karena memang masih kelihatan seperti 50 awal, hehehe. Pasti karena anak2nya baik seperti aku makany dia awet muda.. prett (boong banget ya, hehehe).
Mama(k) adalah ibu yg paling ga mau diem masalah beberes rumah. Smua diberesin, termasuk barang2 kami yg sudah kami susun (baca: tersusun tapi tak rapih) sering dipindah2 dia demi alasan kebersihan dan keindahan. Contohnya klo beresin rak sepatu di rumah, klo sudah diberesin dia, pasti susah cari sepatu tersebut, tambah lagi dimasukkan ke kotak sepatu mana aja yg kosong, alhasil kami harus membuka kotak satu per satu untuk menemukan sepatu tersebut, so pastinya sambil ngomel2 dengan tujuan dan arahan pasti ke mama(k)…”Aduh, sepatuku mana ma(k)? (*&(**(&*&#$(@&*#_*@#^(@#!@#&!(*+)…..”. Tapi memang salut sm kerajinan mama(k)ku ini, dari pemeliharaan bunganya, kamar, sepatu, baju2 cucian, dsb, mama(k) memang tak pernah mau diam klo liat sesuatu berantakan, jadi terharu deh.. -_-
Di ulang tahunnya ini, begitu banyak yg sudah kuterima sebagai anak dari mama(k). Arti seorang mama(k) ternyata sangat penting terasa, yg dahulu kala mungking aku anak yg cuek saja tentang kedua orangtuaku, sekarang aku harus berubah, aku sadar arti mereka di hidupku begitu penting dan krusial. Hiks, jadi pingin nangis, tapi boys don’t cry.. hehehe. Aku seorang anak laki2 yg hidup kebanyakan dari kasih seorang ibu dan melalui doa2nya yg menaburi sekujur jiwa ragaku. Luv u mam!!!! Mudah2an aku bisa membalas sebahagian dari kasih yg kau berikan. Happy blessful b’day mama(k). Gbu